Kebumen – Sidik Fakta.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) adalah seseorang yang terpilih dalam ajang pemilu dan duduk sebagai anggota Legislatif DPRD di sebuah daerah, yang berhasil mendapatkan suara terbanyak dalam satu daerah pemilihan ( Dapil ).
Siapapun yang terpilih sebagai anggota dewan tentunya adalah seseorang yang memenuhi kapasitasnya sebagai wakil rakyat, dan mengetahui kultur, budaya, serta keinginan dari konstituennya, sehingga pada saat menjabat sebagai anggota DPRD bisa menjalankan tupoksinya yang dapat mengakomodir kepentingan dari konstituennya dan dapat berkontribusi terhadap daerah pemilihannya dalam hal pembangunan di semua sektor demi memajukan taraf hidup masyarakat.
Ketika mengamati fenomena pemilu tahun 2024 kali ini, sekalipun proses pemilu berjalan aman, terkendali dan kondusif namun budaya money politik. Atau dalam bahasa Jawa di sebut sebagai wuwuran tidak terelakkan, bahkan terkesan bebas dan tak terkendali. Sehingga masyarakat yang memiliki hak pilih cenderung memilih calon legislatif yang memberikan amplop dengan isi paling banyak. Sehingga ukuran seseorang yang maju sebagai calon anggota dewan, jadi dan tidaknya duduk sebagai anggota DPRD tergantung seberapa besar uang yang di milikinya.
Tragis !!! Terindikasi Ada Beberapa Anggota Legislatif Terpilih Karena Uang, Bukan Karena Kapasitasnya
Dengan maraknya wuwuran yang tidak terkendali sehingga sangat dimungkinkan terpilihnya anggota dewan yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya. Yang pada akhirnya ketika duduk sebagai anggota dewan, di khawatirkan tidak mampu menyerap aspirasi masyarakat. Dan mengontrol jalannya pemerintahan secara proporsional sesuai dengan tupoksinya. Apalagi merumuskan dan membuat peraturan – peraturan daerah yang bertujuan mengatur dan memajukan daerahnya.
Saat awak media menyambangi salah satu calon legislatif yang ikut dalam kontestasi politik tahun 2024 kali ini di kediamannya pada Selasa 20 februari 2024. Yang enggan di sebut namanya menjelaskan bahwa, apabila dalam ajang pemilu di jadikan sebagai ajang wuwuran ( money politik ) meyakini kalau beliau tidak akan terpilih. Mengingat modal finansial yang dimilikinya tidak mencukupi untuk membeli suara. Namun beliau maju sebagai calon legislatif berbekal tekad yang kuwat dan pengalaman dalam berorganisasi.
Maraknya wuwuran membuat demokrasi menjadi semu, bukan memilih calon wakil rakyat yang secara keilmuan dapat di katakan mumpuni. Namun seberapa besar calon wakil rakyat itu membeli suara dari konstituen. Hal ini tentunya harus di jadikan sebagai rujukan agar di masa yang akan datang. Sesuai dengan periodenya peraturan dan perundang – undangan dalam pemilu agar di tinjau kembali. Dengan harapan dapat menempatkqn seseorang menjadi wakil rakyat yang betul – betul memikirkan masyarakat secara keseluruhan demi kemajuan wilayah sesuai dengan tupoksinya sebagai anggota dewan
Purwo Santoso